Sabtu, 11 Oktober 2008

Menanti di Pelataran Harapan ........................dari www.KotaSantri.com

Segalanya berawal ketika benang usiaku menginjak 20 tahun. Usia belia yang penuh warna-warni, syarat dengan permainan dan pencarian jati diri. Dia salah satu dari teman baikku waktu itu. Entah pertimbangan dan keberanian apa yang dia miliki hingga tiba-tiba pinangannya datang padaku. Hanya Allah yang tahu apakah ada ketulusan dan niat baik ataukah sebatas emosi dibalik tawarannya. Kami hanya sebatas teman meski dia pernah menyatakan niat ta'arufnya padaku. Saat itu aku hanya tersenyum padanya. Ada satu keraguan bahwa aku tidak menemukan ketenangan di dalamnya. Aku tidak mengerti mengapa aku selalu merasa tidak yakin dan takut tiap aku memikirkan tawarannya dan hidup bersamanya. Mungkin karena aku tidak merasakan sesuatu terhadapnya dan karena aku masih belum bisa melakukan banyak hal untuk orang-orang yang aku sayangi. Sebab itu aku kemudian menolaknya. Aku membagi semua ini pada seorang teman sebut saja namanya "Nur". Entah bagaimana awalnya kami mulai berteman di pertengahan tahun 1999. Dia begitu pendiam sebab itu aku menyukainya, tentu saja sebagai sahabat. Waktu terus berjalan sampai aku mendapatkan hatiku ada pada seseorang. Masa lalunya begitu buruk. Aku jadi teringat, dulu aku begitu membenci orang-orang seperti ini. Akan tetapi cinta memang tak bisa ditolak, datang tanpa permisi dan pergi tiba-tiba. Kebiasaan buruk sudah dia tinggalkan meski belum sepenuhnya. Sebenarnya dia orang yang hebat, teguh dengan prinsip dan setia. Aku tak pernah tau mengapa aku menyukainya. Kembali keraguan itu mengusik ketenangan. Hati kecilku mengatakan dia bukan untukku. Bukan karena latar belakangnya, tetapi aku merasakan sesuatu yang lain dan sepertinya dia memang bukan untukku. Ternyata firasat itu benar. Meski sudah lama dia menaruh harapan padaku, tetapi aku tidak pernah menyadari dan aku terlambat memilihnya, sebab dia sudah terlanjur bersama yang lain. Semua harus berakhir karena aku menghargai prinsipnya dan karena aku tak mau mengkhianati kaumku. Aku merasa sangat hancur. Sekali lagi aku membagi kesedihan ini bersama Nur sahabat terbaikku. Dia selalu mendengarkan semua ceritaku dan mengatakan bahwa segalanya pasti akan beres. Aku amat bersyukur memiliki sahabat sebaik dia. Subhanallah... Di tengah kekosongan dan nyaris putus asa, aku bertemu dengan teman SMP, tanpa diduga dia pun menaruh harapan sejak SMP dulu, dan meminta aku menjadi yang istimewa. Dia baik, namun aku tak bisa membalasnya. Rasanya sedih sekali aku harus menyakiti hati orang-orang yang menyayangiku. Aku tak mau berpura-pura menyukai orang dan aku tak mau berpacaran. Seandainya waktu itu aku menerimanya mungkin dia juga meminangku. Sebab dari cara bicaranya kerap sekali menuju ke arah sana meski itu samar. Usia kami hanya terpaut 1 tahun. Sekali lagi aku tidak yakin dapat hidup bersamanya. Dia menghilang dan 2 tahun kemudian aku tau dia sudah menikah dengan seseorang,... "Selamat untuk kalian" batinku berbisik pelan. Waktu kian beranjak dewasa, aku masih tetap dengan aktivitasku. Dimana semua itu mengantarkanku pada persahabatan yang lebih tulus dengan Nur. Kebersamaan itu mendekatkan kami hingga kami tak menyadari adanya perubahan. Kami baru tersadar saat kami berada di batas persahabatan dan cinta. "He is my very best friend i have ever had". Kami sama-sama takut melampaui batas-batas persahabatan yang sudah lama kami bina. Akan tetapi ketakutan itu justru mengikrarkan segalanya tanpa kami sadari. Tidak pernah terpikir bahwa aku akan benar-benar mencintainya. Kenyataan memang tak seindah mimpi dan asa. Meski aku tau dia menyayangiku tapi jauh hati kecilku berbisik bahwa dia bukan untukku. Pada akhirnya ketidakpastian itu membawanya pergi dari asa-asa kami, dan aku mengikhlaskannya. Beberapa tahun kemudian aku mengetahui dia sudah menemukan cintanya dan menikah bersamanya. "Sekali lagi selamat untuk kalian berdua". Aku sudah tak lagi memikirkan itu. Lebih baik aku pasrah dan melakukan hal-hal lain yang lebih penting yang bisa aku kerjakan. Di tengah kesendirian dan nyaris putus asa itulah datang seorang teman lama, menyatakan maksud hatinya dan ingin berniat baik padaku. Mengajak aku menikah. Saat itu usiaku menginjak 24 tahun dan dia 25 tahun. Aku memaksakan diri menerimanya. Aku benci pada diri sendiri sebab selalu merasa tidak yakin dengan niat baik itu. Aku belajar menerimanya tapi aku justru tersiksa. Akhirnya aku mengakhiri ta'arufnya secara sepihak, syukurlah dia mau mengerti dan tetap bersedia menjadi sahabatku. Beberapa bulan kemudian dia bilang bahwa dia sudah bertunangan, dan aku ikut berbahagia untuknya. Syukurlah jika benar demikian. Aku sengaja menjaga jarak darinya, dan biasanya dia yang selalu menghubungiku. Hingga tiba waktu dimana kami tak saling tukar berita sekitar 3 bulan. Tiba-tiba saja aku merindukannya padahal selama ini hal itu tak pernah terjadi. Aku berusaha menghubunginya tapi tak pernah berhasil. Suatu hari aku menerima pesan darinya menanyakan tentang keadaanku. Aku manfaatkan kesempatan itu untuk meminta bantuannya mengenai proposal yang sedang aku buat. Lega sekali rasanya bisa mendengar suaranya kembali dan esoknya dalam pesan singkatnya secara tak langsung dia memberitahu aku bahwa dia telah beristri. Batin aku menyesal. Mengapa aku menyia-nyiakannya? Selama ini aku sudah menyia-nyiakan banyak orang dan penyesalan selalu datang terlambat. Kini usiaku sudah menginjak 1/4 abad, tak ada lagi semangat seperti muda dulu. Bahkan aku sudah kehilangan banyak kesempatan dan teman baik. Sementara niat untuk segera menyempurnakan 1/2 dien tak bisa lagi dipungkiri. Teman-teman sebaya sudah menikmati rumah tangganya masing-masing. Hanya pada Mu ya Rabb aku berserah diri. Engkau pasti sudah menyediakan seorang pilihan terbaik untukku. Tegarkan hati ini setegar hatinya, dan sabarkan kami menanti masa itu tiba... Allaahumma Aamiin. *** Jangan menunda sesuatu yang menjadi sunnah Rasul dan jangan menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada, karena penyesalan selalu datang terlambat. Akan tetapi jangan pula tergesa-gesa tunggulah orang yang tepat. -Yang menanti di pelataran harapan- (imroah)

Tidak ada komentar:

Wassalaamu'alaikum