Rabu, 11 Februari 2009

“GORESAN CINTA BUAT SAHABAT” ( Fathimah muthmainnah)

Bertanya seorang anak kepada ibunya, seraya mendekap manja dipelukan sang ibu.


wahai ibu, bisakah ibu ceritakan kepadaku tentang sahabat sejati? Ibunya tersenyum, sambil membelai lembut kepala anaknya, ditatapnya dalam-dalam mata sang anak, seraya berkata, ”sahabat sejati adalah kesetiaan. Bila kau pandangi langit nampak olehmu mentari yang bercahaya, ia selalu dan setia menyinari alam semesta ini. Mentari tak pernah ingkar walau sedetikpun, ia taburi cahaya untuk melayani semua makhluk di atas muka bumi ini. Wahai anak ku mentari adalah contoh sahabat sejati bagi semua makhluk di dunia ini.”


”Lalu bagaimana dengan kita ibu”? Tanya anaknya kemudian.


”Anakku, sahabat sejati memberikan cinta, membangun ukhuwah serta memberikan kasih dan sayang, dalam doa malamnya mengalir nama-nama sahabatnya, dalam kebahagiaanya ada kebahagiaan sahabatnya, ia berani berkorban dan rugi untuk sahabatnya. Anakku, sahabat sejati tidak pernah mengharap balasan, tak dihitung budinya, tak ditakar kebaikannya dan tak ditimbang cintanya. Semuanya tulus dipersembahkan. Satu keinginannya, bila ia mencintai sahabatnya ia berharap Allah mencintainya pula”.


Sang anak tertegun mendengar penjelasan ibunya, lantas dia berkata, teruskan penjelasanmu wahai ibu”.


Anakku, sahabat sejati tidak pernah menakar cinta dengan uang ataupun harta. Tak mengukur ukhuwah dengan selalu memberi, tak membagi kasih dan sayang untuk sebuah pujian. Namun ia berikan itu semua untuk satu harapan”.


Apa harapan itu ibu”? Tanya anaknya keheranan.


”Surga yang penuh kenikmatan wahai anakku”. Tidakkah kau tahu ketika rasul membagi cintanya, tak satupun sahabatnya yang tidak mendapatkannya, hingga semua sahabat merasa diri merekalah yang paling dicintai oleh Rasulullah”.


Sang ibu melanjutkan petuahnya.


Anakku sahabat sejati menjaga aib sahabatnya, segala kebaikannya ia ceritakan, ia tutupi kekurangan dan kecacatan yang dimiliki sahabatnya. Memandang wajahnya mengingatkan engkau pada keimanan, mendengar ucapannya menyejukkan hatimu, menatap tingkahnya mengingatkan engkau tuk segera berbuat kebaikan”. ”Lanjutkan petuahmu wahai ibu” pinta sang anak


Anakku, bersahabatlah dengan iman sebagai tiangnya, ikhlas sebagai pondasinya, cinta sebagai ikatannya, pengorbanan sebagai dindingnya, kasih dan sayang sebagai atapnya, dan jujur sebagai lantainya. Wahai anakku, ingatlah! Takkan kau jumpai sahabat sejati, bila kau sendiri tak belajar sejati”. Sang ibu mengakhiri petuahnya. Anak itu mendekap erat tubuh ibunya, ”terima kasih bunda” ucapnya lirih.


(diambil dari buku MENGUBAH HIDUP MERAIH BAHAGIA karya Hendi Kurniah ”buya Azzam Syahid Muhammad al Fatih”)

Wassalaamu'alaikum