Sabtu, 04 Oktober 2008

Pendidikan Anak Dalam Islam

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

Pendahuluan

Bab 1: Peranan Keluarga Dalam Islam

Bab 2: Tujuan Pendidikan Dalam Islam

Bab 3: Memperhatikan Anak Sebelum Lahir

Bab 4: Memperhatikan Anak Ketika Dalam Kandungan

Bab 5: Memperhatikan Anak Setelah Lahir
5.1. Menyampaikan Khabar Gembira, Ucapan Selamat
5.2. Menyerukan Adzan Di Telinga Bayi
5.3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut)
5.4. Memberi Nama
5.5. Aqiqah
5.6. Mencukur Rambut Bayi, Bersedekah
5.7. Berkhatan

Bab 6: Memperhatikan Anak Pada Usia Enam Tahun Pertama
6.1. Memberikan Kasih Sayang
6.2. Membiasakan Anak Berdisiplin
6.3. Hendaklah Ibu bapa menjadi Teladan yang Baik
6.4. Anak Dibiasakan Dengan Etiket Umum

Bab 7: Memperhatikan Anak Pada Usia Setelah Enam Tahun Pertama
7.1. Pengenalan Allah Dengan Cara Sederhana
7.2. Pengajaran Sebahagian Hukum
7.3. Pengajaran Membaca Al Qur'an
7.4. Pengajaran Hak-hak Kedua Orangtua
7.5. Pengenalan Tokoh Teladan Islam
7.6. Pengajaran Etiket Umum
7.7. Pengembangan Rasa Percaya dan Tanggungjawab

Bab 8: Memperhatikan Anak Pada Masa Remaja

Bab 9: Beberapa Kesalahan Para Pendidik
9.1. Ucapan Pendidik Tidak Sesuai Dengan Perbuatan
9.2. Ibu-bapa Tidak Sepakat Atas Cara Pendidikan Anak
9.3. Membiarkan Anak Jadi Korban Televisyen
9.4. Menyerahkan Tanggungjawab Pendidikan Kepada Pengasuh
9.5. Pendidik Menampakkan Kelemahannya Dalam Mendidik Anak
9.6. Berlebihan Dalam Memberi Hukuman
9.7. Mengekang Anak Secara Berlebihan
9.8. Mendidik Anak Tidak Percaya Diri, Merendahkan Peribadinya


PENDAHULUAN
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, ...” [Qur’an; Surah At-Tahrim: 6]


“Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah
kepada kami dari isteri-isteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'.” [Qur'an Surah Al-Furqan: 74]

“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah,
ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo'akannya.” [HR. Muslim, dari Abu Hurairah]

Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Seringkali orang mengatakan: "Negara ini adikuasa, bangsa itu mulia dan kuat, tak ada seorangpun yang berfikir mengintervensi negara tersebut atau menganeksasinya kerana kedigdayaan dan keperkasaannya".

Dan elemen kekuatan adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan kebudayaan. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah kekuatan manusia, kerana manusia adalah sendi yang menjadipusat segala elemen kekuatan lainnya. Tak mungkin senjata dapat dimanfaatkan, meskipun canggih, bila tidak ada orang yang ahli dan pandai menggunakannya. Kekayaan, meskipun melimpah, akan menjadi mubadzir tanpa ada orang yang mengatur dan mendaya-gunakannya untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat.

Dari titik tolak ini, kita dapati segala bangsa menaruh perhatian terhadap pembentukan individu, pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan warga secara khusus agar mereka menjadi orang yang berkarya untuk bangsa dan berkhidmat kepada tanah air.

Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk mencapai predikat "umat terbaik", sebagaimana dinyatakan Allah 'Azza Wa lalla dalam firman-Nya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dariyang munkar....” (Surah Ali Imran: 110).

Dan agar mereka membebaskan diri dari jurang dalam yang mengurung diri mereka, sehingga keadaan mereka dengan umat lainnya seperti yang beritakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

"Hampir saja umat-umat itu mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang sedang makan berkerumun disekitar nampan". Ada seorang yang bertanya: "Apakah kerana kita berjumlah sedikit pada masa itu?" Jawab beliau: "Bahkan kamu pada masa itu berjumlah banyak, akan tetapi kamu bagaikan buih air bah. Allah niscaya mencabut dari hati musuh kamu rasa takut kepada kamu, dan menanamkan rasa kelemahan dalam dada kamu". Seorang bertanya: "Ya Rasulullah, apakah maksud kelemahan itu?" Jawab beliau: "Iaitu cinta kepada dunia dan enggan mati".

BAB 1: PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam mahupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, iaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Kerana keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.

Musuh-musuh Islam telah menyedari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan segala usaha ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:

1. Merosak wanita muslimah dan mempropagandakan kepadanya agar meninggalkan tugasnya yang utama dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.

2. Merosak generasi muda dengan upaya mendidik mereka di tempat-tempat pengasuhan yang jauh dari keluarga, agar mudah dirosak nantinya.

3. Merosak masyarakat dengan menyebarkan kerosakan dan kehancuran, sehingga keluarga, individu dan masyarakat seluruhnya dapat dihancurkan.

Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyedari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peranan kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: "Ketahuilah, bahawa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa."
Posted by Hidayatullah, S.Pd.I at 15:45:26 | Permanent Link | Comments (0) |

BAB 2: TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim. Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat. Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut:

"Nyatalah bahawa pendidikan individu dalam Islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, iaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahawa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah." (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu'atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq 'Ilajiha, hal. 76.)

BAB 3: MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR

Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasihat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda: " Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak.

Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda: "Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerosakan yang besar"

Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti petunjuk Rasulullah dalam kehidupan rumahtangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita: "Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: "Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau kurniakan kepada kami". Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya".

BAB 4: MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN

Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya.

Sabda Rasulullah: "Sesungguhnya Allah membebaskan sepanuh shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil" (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa'i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: "Isnad hadits inijayyid')

Sang ibu hendaklah berdo'a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan seluruh kaum muslimin. Kerana termasuk do'a yang dikabulkan adalah do'a orangtua untuk anaknya.

BAB 5: MEMPERHATIKAN ANAK SETELAH LAHIR

Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:

5.1. Menyampaikan Khabar Gembira dan Ucapan Selamat Atas Kelahiran.

Begitu melahirkan, sampaikanlah khabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah 'Azza Wa Jalla tentang kisah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam bersama malaikat:

“Dan isterinya berdiri (di balik tirai lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari lshaq (akan lahir puteranya) Ya'qub.” (Surah Hud: 71).

Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariya 'Alaihissalam:

“Kemudian malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu ) Yahya” (Ali Imran: 39).

Adapun tahni'ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasul dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu 'Anha: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak bayi, maka beliau mendo'akan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya (dengan korma atau madu )" ( Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud).

Abu Bakar bin Al Mundzir menuturkan: Diriwayatkan kepada kami dari Hasan Basri, bahawa seorang laki-laki datang kepadanya sedang ketika itu ada orang yang baru saja mendapat kelahiran anaknya. Orang tadi berkata: Penunggang kuda menyampaikan selamat kepadamu. Hasan pun berkata: Dari mana kau tahu apakah dia penunggang kuda atau himar? Maka orang itu bertanya: Lain apa yang mesti kita ucapkan.

Katanya: Ucapkanlah: "Semoga berkah bagimu dalam anak, yang diberikan kepadamu, Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dikurniai kebaikannya, dan dia mencapai kedewasaannya" (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Tuhfatul fi Ahkamil Maulud.)

5.2. Menyerukan Adzan Di Telinga Bayi.

Abu Rafi' Radhiyallahu 'Anhu menuturkan: "Aku melihat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah" (Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Hikmahnya, Wallahu A'lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga sebagai perisai bagi anak, kerana adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya.

Ini sesuai dengan pemyataan hadits: "Jika diserukan adzan untuk shalat, syaitan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan kentut sampai tidak mendengar seruan adzan" (Ibid)

5.3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).

Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, iaitu melembutkan sebutir korma dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi. Caranya, dengan menaruh sebahagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis (seperti madu atau gula).

Abu Musa menuturkan: "Ketika aku dikurniai seorang anak laki-laki, aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, mentahniknya dengan korma dan mendo'akan keberkahan baginya, kemudian menyerahkan kepadaku".

Tahnik mempunyai pengaruh kesihatan sebagaimana dikatakan para doktor. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan: "Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu'jizat Nabi dalam bidang kedoktoran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para doktor telah membuktikan bahawa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:

a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (kerana kelaparan).
b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya. "'

5.4. Memberi Nama.

Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik. Diriwayatkan dari Wahb Al Khats'ami bahawa Rasulullah bersabda: "Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang amat disukai Allah Ta'ala iaitu Abdullah dan Abdurrahman, sedang nama yang paling manis iaitu Harits dan Hammam, dan nama yang sangat jelek iaitu Harb dan Murrah" (HR. Abu Daud An Nasa'i)

Pemberian nama merupakan hak bapa. Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada datuk, nenek, atau selain mereka.

Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Disebutkan Ibnul Qayim dalam Tuhfaful Wadttd bi Ahkami Maulud, bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah beliau bersabda: "Semoga mudah urusanmu"
Dalam suatu perjalanan beliau mendapatkan dua buah gunung, lain beliau bertanya tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliaupun berbelok arah dan tidak melaluinya. (Ibnu Qayim Al Jauziyah, Tuhfatul Wadud, hal. 41.)

Termasuk petunjuk Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang 'Ashiyah dengan Jamilah, Ashram dengan Zur'ah. Disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan:"Nabi mengganti nama 'Ashi, 'Aziz, Ghaflah, Syaithan, Al Hakam dan Ghurab. Beliau mengganti nama Syihab dengan Hisyam, Harb dengan Aslam, Al Mudhtaji' dengan Al Munba'its, Tanah Qafrah (Tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (Kesesatan) dengan Kampung Hidayah (Petunjuk), dan Banu Zanyah (Anak keturunan haram) dengan Banu Rasydah (Anak keturunan baik)." (Ibid)

5.5. Aqiqah.

Iaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya:

Rasulullah bersabda: "Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya" (HR. Al Bukhari. )

Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, bahawa Rasulullah bersabda: "Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding, sedang untuk anak perempuan seekor kambing" (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya iaitu hari ketujuh dari kelahiran. Namun, jika tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan bila-bila saja, Wallahu A'lam.

Ketentuan kambing yang dapat untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.

5.6. Mencukur Rambut Bayi dan Bersedekah Perak Seberat Timbangannya.

Hal ini mempunyai banyak faedah, antara lain: mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladfil Islam, juz 1.)

Bersedekah perak seberat timbangan rambutnya pun mempunyai faedah yang jelas.

Diriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad, dari bapanya, katanya: "Fatimah Radhiyalllahu 'anha menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum; lalu ia mengeluarkan sedekah berupa perak seberat timbangannya (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa')

5.7. Berkhatan.

Iaitu memotong kulup atau bahagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau bahagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahawa Rasulullah bersabda: "Fitrah itu lima: berkhatan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak" (HR. Al-bukhari, Muslim)

Berkhatan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkar) bagi kaum wanita. WallahuA'lam.

Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh orangtua atau pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.

Namun, di sana ada beberapa kesalahan yang terjadi pada saat menunggu kedatangannya Secara singkat, antara lain:

A. Membacakan ayat tertentu dari Al Qur'an untuk wanita yang akan melahirkan; atau menulisnya lalu dikalungkan pada wanita, atau menulisnya lalu dihapus dengan air dan diminumkan kepada wanita itu atau dibasuhkan pada perut danfarji (kemaluan)nya agar dimudahkan dalam melahirkan. ltu semua adalah batil, tidak ada dasamya yang shahih dari Rasulullah, Akan tetapi bagi wanita yang sedang menahan rasa sakit kerana melahirkan wajib berserah diri kepada Allah agar diringankan dari rasa sakit dan dibebaskan dari kesulitannya Dan ini tidak bertentangan dengan ruqyah yang disyariatkan.

B. Menyambut gembira dan merasa senang dengan kelahiran anak laki-laki, bukan anak perempuan.

Hal ini termasuk adat Jahiliyah yang dimusuhi Islam. Firman Allah yang berkenaan dengan mereka:

“Apabila seseorang dari mereka diberi khabar dengan (kelahiran) anak, perempuan, hitamlah (merah padamlah) matanya, dan dia sangat marah; ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya. Apakah dia akan memeliharannya dengan menanggumg kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang telah mereka lakukan itu” (Surah An Nahl: 58-59).

Mungkin ada sebahagian orang bodoh yang bersikap berlebihan dalam hal ini dan memarahi isterinya kerana tidak melahirkan kecuali anak perempuan. Mungkin pula menceraikan isterinya kerana hal itu, padahal kalau dia menggunakan akalnya, semuanya berada di tangan Allah 'Azza wa lalla. Dialah yang memberi dan menolak. Firman-Nya:

“Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki-Nya, dan dia menjadikan Mandul siapa yang Dia kehendaki…” (Surah Asy Syura:49-50).

Semoga Allah memberikan petunjukkepada seluruh kaum Muslimin.

C. Menamai anak dengan nama yang tidak sesuai. Misalnya, nama yang bermakna jelek, atau nama orang-orang yang menyimpang seperti penyanyi atau tokoh kafir. Padahal menamai anak dengan nama yang baik merupakan hak anak yang wajib atas walinya.

Termasuk kesalahan yang berkaitan dengan pemberian nama, iaitu ditangguhkan sampai setelah seminggu.

D. Tidak menyembelih aqiqah untuk anak padahal mampu melakukannya. Aqiqah merupakan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam, dan mengikuti petunjuk beliau adalah sumber segala kebaikan.

E. Tidak menetapi jumlah bilangan yang ditentukan untuk aqiqah. Ada yang mengundang untuk acara aqiqah semua kenalannya dengan menyembelih 20 ekor kambing, ini merupakan tindakan berlebihan yang tidak disyariatkan. Ada pula yang kurang dari jumlah bilangan yang ditentukan, dengan menyembelih hanya seekor kambing untuk anak iaki-laki, inipun menyalahi yang disyariatkan. Maka hendaklah kita menetapi sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wasalam tanpa menambah ataupun mengurangi.

F. Menunda khatan setelah akil baligh. Tradisi ini dahulu terjadi pada beberapa suku, seorang anak dikhatan sebelum kahwin dengan cara yang biadab di hadapan orang banyak.

Itulah sebahagian kesalahan, dan masih banyak lainnya. Semoga cukup bagi kita dengan menyebutkan etika dan tata cara yang ditunjukkan ketika menerima kelahiran anak. Kerana apapun yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, termasuk kesalahan yang tidak disyariatkan. (Disarikan dari kitab Adab Istiqbal al Maulud fil Islam, oleh ustadz Yusuf Abdullah al Arifi)

BAB 6: MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA

Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan peribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengan nyata pada keperibadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)

Kerana itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.

Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:

6.1. Memberikan Kasih Sayang Yang Diperlukan Anak Dari Pihak Kedua Orangtua, Terutama Ibu.

Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini, maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. "Seorang ibu yang muslimah harus menyedari bahawa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak keperluan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merosak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikurniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi keperluan anak." (Muhammad Quthub, Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)

Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.

6.2. Membiasakan Anak Berdisiplin Mulai Dari Bulan-bulan Pertama Dari Awal Kehidupannya.

Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahawa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengawal petunjuk dan keperluannya pada masa akan datang.

6.3. Hendaklah Kedua Orangtua Menjadi Teladan Yang Baik Bagi Anak Dari Permulaan Kehidupannya.

Iaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan menyangka kerana anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya.

Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada peribadi anak. "Kerana kemampuan anak untuk menangkap, dengan sedar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak iaitu alat penangkap dan alat peniru, meskipun kesedarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak. Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sedar, atau tanpa kesedaran puma, dan akan meniru secara tidak sedar, atau tanpa kesedaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya." (Ibid.)

6.4. Anak Dibiasakan Dengan Etiket Umum Yang Mesti Dilakukan Dalam Pergaulannya.

Antara lain: (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni, MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)

Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.

Dibiasakan mendahulukan bahagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan.

Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesedaran menutup aurat dan malu membukanya.

Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.

Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.

Dilarang bermain dengan hidungnya.

Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.

Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

Tidak memandang dengan tajam kepada makanan mahupun kepada orang yang makan.

Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.

Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.

Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.

Dibiasakan membaca "AZhamdulillah" jika bersin, dan mengatakan "Yarhamukallah" kepada orang yang bersin jika membaca "Alhamdulillah".

Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.

Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

Tidak memanggil ibu dan bapa dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapa).

Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.

Dibiasakan berjalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.

Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.

Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan "Assalamu 'Alaikum" serta membalas salam orang yang mengucapkannya.

Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.

Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, kerana hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.

Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Dapat juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Kerana permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, kereta mainan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan haiwan.

Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.
Posted by Hidayatullah, S.Pd.I at 15:36:08 | Permanent Link | Comments (0) |

BAB 7: MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA SETELAH ENAM TAHUN PERTAMA

Pada periode ini anak menjadi lebih siap untuk belajar secara teratur. Ia mahu menerima pengarahan lebih banyak, dan lebih mungkin menyesuaikan diri dengan teman-teman sepermainannya. Dapat kita katakan, pada periode ini anak lebih mengerti dan lebih semangat untuk belajar dan memperoleh ketrampilan-ketrampilan, kerananya ia boleh diarahkan secara langsung. Oleh sebab itu, masa ini termasuk masa yang paling penting dalam pendidikan dan pengarahan anak.

Kita, Insya Allah, akan membicarakan tentang aspek-aspek terpenting yang perlu diperhatikan oleh para pendidik pada periode ini. Iaitu:

7.1. Pengenalan Allah Dengan Cara Yang Sederhana.

Pada periode ini dikenalkan kepada anak tentang Allah 'Azza Wajalla dengan cara yang sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya. Diajarkan kepadanya:

Bahawa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.

Bahawa Dialah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi, manusia, haiwan, pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya. Pendidik dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya kepada anak, misalnya ketika berjalan-jalan di taman atau padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai, bumi, pepohonan dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya kepada keagungan Allah.

Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikurniakan Allah untuknya dan untuk keluarganya. Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang memberimu pendengaran, penglihatan dan akal? Siapakah yang memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rezeki dan makanan untukmu dan keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang banyak ini. Metode ini disebutkan dalam Al Qur'an, dalam banyak ayat Allah menggugah minat para hamba-Nya agar memperhatikan segala nikmat yang dikurniakan-Nya, seperti firman-Nya:

“Tidakkah kamu perhatian sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempumakan untukmu nikmatnya lahir dan batin....” (Surah Luqman: 20).

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi. . . . ” (Surah Fathir:3).

“Dan dengan rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirehat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dai kurnia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadan-Nya.” (Surah Al Qashash: 73).

7.2. Pengajaran Sebahagian Hukum Yang Jelas dan Tentang Halal-Haram.

Diajarkan kepada anak menutup aurat, berwudhu, hukum-hukum thaharah (bersuci) dan pelaksanaan shalat. Juga dilarang dari hal-hal yang haram, dusta, adu domba, mencuri dan melihat kepada yang diharamkan Allah. Pokoknya, disuruh menetapi syariat Allah sebagaimana orang dewasa dan dicegah dari apa yang dilarang sebagaimana orang dewasa, sehingga anak akan tumbuh demikian dan menjadi terbiasa. Kerana bila semenjak kecil anak dibiasakan dengan sesuatu, maka kalau sudah dewasa akan menjadi kebiasaannya.

Agar diupayakan pula pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak, sebagaimana kata Sufyan Al Tsauri: "Seorang bapa barns menanamkan ilmu pada anaknya, kerana dia adalah tanggungjawabnya." (Muhammad Hasan Musa, Nuzharul Fudhala' Tahdzib Siar A'lamin Nubala: Juz 1.)

7.3. Pengajaran Membaca Al Qur'an.

Al Qur'an adalah jalan lurus yang tak mengandungi suatu kebatilan apapun. Maka amat baik jika anak dibiasakan membaca Al Qur'an dengan benar, dan diupayakan semaksimumnya agar mengbafal Al Qur'an atau sebahagian besar darinya dengan diberi dorongan melalui berbagaicara. Kerana itu, kedua orangtua bendaklah berusaha agar putera puterinya masuk pada salah satu sekoiah tahfizh Al Qur'an; kalau tidak boleh, diusahakan masuk pada salah satu halaqah tahfizh.

Diriwayatkan Abu Dawud dari Mu'adz bin Anas bahawa Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda: "Barang siapa membaca Al-quran dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya Allah pada hari kiamat mengenakan kepada keda orangtuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal ini".

Para salaf dahulu pun sangat memperhatikan pendidikan tahfizh Al Qur'an bagi anak-anak mereka. Syaikh Yasin bin Yusuf Al Marakisyi menceritakan kepada kita tentang imam AnNawawi, Rahimahullah, katanya: "Aku melihat beliau ketika masih berumur 10 tahun di Nawa. Para anak kecil tidak mahu bermain dengannya dan iapun berlari dari mereka seraya menangis, kemudian ia membaca Al Qur'an. Maka tertanamlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya. Ketika itu bapanya menugasinya menjaga kedai, tetapi ia tidak mahu bejualan dan menyibukkan diri dengan Al Qur'an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya bahawa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya serta bermanfaat bagi umat manusia.

Ia pun berkata kepadaku: Tukang ramalkah anda? Jawabku: Tidak, tetapi Allahlah yang membuatku berbicara tentang hal ini. Tuan guru itu kemudian menceritakan kepada orangtuanya, sehingga memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam Al Qur'an ketika meningkat dewasa."

7.4. Pengajaran Hak-hak Kedua Orangtua.

Diajarkan kepada anak untuk bersikap hormat, taat dan berbuat baik kepada kedua orangtua, sehingga terdidik dan terbiasa demikian. Anak sering bersikap durhaka dan melanggar hak-hak orangtua disebabkan kerana kurangnya perhatian orangtua dalam mendidik anak dan tidak membiasakannya berbuat kebaikan sejak usia dini. Firman Allah Ta'ala:

'Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesanyangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."' (Surah Al-Isra': 23-24).

Diriwayatkan dari Abu HurairahRadhiyallahu 'Anhu bahawa Nabi bersabda: "Terhinalah, terhinalah, dan terhinalah seseorang yang mendapatkan salah seorang dari kedua orangtuanya atau kedua-duanya berusia lanjut, tetapi tidak dapat masuk surga"

Berikut ini kisah seorang anak muda yang berbuat baik kepada bapanya, disebutkan dalam kitab 'Uyunul Akhbar: "Al Ma'mun rahimahullah berkata: Belum pernah saya melihat seseorang yang amat berbuat baik kepada bapanya daripada Al Fadhl bin Yahya. Kerana kebaikannya, sampai bapanya (Yahya) tidak berwudhu kecuali dengan air hangat. Ketika keduanya berada dalam penjara, pegawai penjara melarang memasukkan kayu bakar di malam yang dingin. Maka Al Fadhl, ketika bapanya tidur, bangun mengambil teko yang biasa dia pergunakan untuk memanaskan air, lalu ia isi air dan ia dekatkan pada api lampu. Ia pun tetap berdiri memegangi teko sampai pagi. Ia lakukan hal ini untuk berbuat baik kepada bapanya agar dapat berwudhu dengan air hangat."

7.5. Pengenalan Tokoh-tokoh Teladan Yang Agung Dalam Islam.

Tokoh teladan kita yang utama iaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, kemudian para sahabat yang mulia Radhiallahu 'Anhum dan pengikut mereka dengan baik yang menjadi contoh terindah dalam segala aspek kehidupan. Maka dikenalkan kepada anak tentang mereka, diajarkan sejarah dan kisah mereka supaya meneladani perbuatan agung mereka dan mencontoh sifat baik mereka seperti keberanian, keprajuritan, kejujuran, kesabaran, kemuliaan, keteguhan pada kebenaran dan sifat-sifat lainnya.

Kisah atau kejadian yang diceritakan kepada anak hendaklah sesuai dengan tingkat pengertiannya, tidak membosankan, dan difokuskan pada penampilan serta penjelasan aspek-aspek yang baik saja sehingga mudah diterima oleh anak.

Misalnya, diceritakan kepada anak kisah Rasulullah bersama orang Yahudi yang menuntut kepada beliau agar membayar wang pinjamannya, sebagai contoh akhlak baik beliau:

Diriwayatkan bahawa ada seorang Yahudi yang meminjamkan wang kepada Rasulullah lalu hendak menagih hutangnya sebelum habis masanya. Maka dicegatnya Rasulullah di tengah jalan kota Madinah seraya berkata: "Sungguh, kamu anak keturunan Abdul Muthalib adalah orang-orang yang suka menangguhkan / bayarhutang)"

Umar pun melihat kejadian itu dan amat marah, lalu berkata: "Izinkanlah aku wahai Rasulullah, biar kupenggal lehernya!" Tapi Nabi bersabda: "Aku dan kawanku sangat tidak menginginkan hal itu, wahai Umar. Suruhlah ia berperkara dengan baik dan suruhlah aku menyelesaikan dengan baik." Kemudian beliau berpaling kepada orangYahudi dan bersabda: "Hai Yahudi, piutangmu akan dibayarkan besok.""

Contoh kisah tentang keberanian dan ketabahan, diriwayatkan oleh Mu'adz bin Amr katanya: Pada waktu Perang Badar kujadikan Abu Jahal sebagai sasaranku. Begitu ada kesempatan, aku serang dia dan kupukul sehingga terpotong separuh betis kakinya. Sementara, anaknya Ikrimah bin Abu Jahal memukulku pada lengan hingga terputus tanganku tetapi masih menempel dengan kulit pada sisiku. Namun peperangan membuatku tak perduli dengannya, kerana aku ketika ifu berperang sepanjang hari sambil menyeret tanganku dibelakang. Setelah terasa sakit kerananya, kuletakkan kakiku di. atasnya ialu kutarik hingga terputus."

Sejarah umat Islam penuh dengan tokoh-tokoh agung dan kisah-kisah menarik yang menunjukkan keutamaan dan makna yang indah.

7.6. Pengajaran Etiket Umum.

Seperti etiket mengucapkan salam dan meminta izin, etiket berpakaian, makan dan minum, etiket berbicara dan bergaul dengan orang lain. Juga diajarkan bagaimana bergaul dengan kedua orangtua, sanak famili yang tua, kolega orangtua, guru-gurunya, kawan-kawannya dan teman sepermainannya.

Diajarkan pula mengatur kamamya sendiri, menjaga kebersihan rumah, menyusun alat bermain, bagaimana bermain tanpa mengganggu orang lain dan bagaimana bertingkah laku di masjid dan disekolahan.

Pegajaran berbagai hal di atas dan juga lainnya pertama-tama harus bersumber kepada Sunnah Rasulullah, lalu peri kehidupan para salaf yang shaleh, kemudian karya tulis para pakar dalam bidang pendidikan dan tata pergaulan.

7.7. Pengembangan Rasa Percaya Diri dan Tanggungjawab Dalam Diri Anak.

Anak-anak sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Kerana itu, harus dipersiapkan dan dilatih mengemban tanggungjawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka lakukan.

Hal itu boleh direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam fikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumahtangga yang sesuai untuknya. Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban tanggungjawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.

Termasuk pemberian tanggungjawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahawa ia bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirosaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Perhatikan kisah berikut yang menunjukkan rasa percaya diri: Diriwayatkan oleh Al Hafizh Ibnu Asakir, ketika Abdullah bin Az Zubair sedang bemain-main dengan anak-anak sebayanya, lalulah khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhtr.

Maka larilah semua anak kerana takut kepada beliau, kecuali Abdullah bin Az Zubair yang masih tinggal di tempat. Lalu Umar menghampirinya dan bertanya kepadanya: "Kenapa kamu tidak lari bersama teman-temanmu, nak?" Dengan berani dan tenang Abdullah menjawab: "Ya Amirul Mu'minin! Aku bukan seorang yang bersalah sehingga harus takut, dan jalan pun tidak sempit sehingga aku harus pinggir.

Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggungjawab yang besar. Sebagaimana putera-putera para sahabat, mereka berusaha sungguh-sungguh agar dapat ikut bersama para mujahidin Fisabilillah; sampai salah seorang di antara mereka ada yang menangis kerana Rasulullah belum mengizinkannya ikut berperang bersama pasukan, tetapi kerana simpati terhadapnya beliau pun mengizinkannya; dan akhimya ia termasuk salah satu syuhada dalam peperangan itu.

Rasulullah juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan yang di antara anggotanya terdapat Abu Bakar dan Umar, sekalipun masih muda belia tetapi ia orang yang tepat untuk jabatan itu. Lalu, di manakah anak-anak kita sekarang ini yang mampu menduduki puncak yang tinggi?

BAB 8: MEMPERHATIKAN ANAK PADA MASA REMAJA

Pada masa ini pertumbuhan jasmani anak menjadi cepat, wawasan akalnya bertambah luas, emosinya menjadi kuat dan semakin keras, serta naluri seksualnya pun mulaibangkit.

Masa ini merupakan pendahuluan masa baligh. Kerana itu, para pendidik perlu memberikan perhatian terhadap masalah-masalah berikut dalam menghadapi remaja:

1. Hendaknya anak, putera mahupun puteri, merasa bahawa dirinya sudah dewasa kerana ia sendiri menuntut supaya diperlakukan sebagai orang dewasa, bukan sebagai anak kecil lagi.

2. Diajarkan kepada anak hukum-hukum akilbaligh dan diceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan menjauhkan diri dari hal yang haram.

3. Diberikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumahtangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahawa dia sudah besar.

4. Berupaya mengawasi anak dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat serta mancarikan teman yang baik.

BAB 9: BEBERAPA KESALAHAN PARA PENDIDIK

9.6. Berlebihan Dalam Memberi Hukuman dan Balasan.

Hukuman adalah sesuatu yang disyariatkan dan termasuk salah satu sarana pendidikan yang berhasil yang sesekali mungkin diperlukan pendidik.

Namun ada yang sangat berlebihan dalam menggunakan sarana ini, sehingga membuat sarana itu berbahaya dan berakibat yang sebaliknya. Seperti kits mendengar ada orangtua yang menahan anaknya beberapa jam dibilik yang gelap jika melakukan kesalahan; ada juga yang mengikat anaknya jika berbuat sesuatu hal yang mengganggunya.

Hukuman bertingkat-tingkat, mulai dari pandangan yang mempunyai erti hingga hukuman berupa pukulan. Pendidik mungkin perlu menggunakan hukuman yang lebih daripada sekedar pandangan yang memojokkan atau kata-kata celaan bahkan mungkin terpaksa menggunakan hukuman berupa pukulan; namun ini merupakan penyelesaian akhir, tidak diperlukan kecuali jika tidak ada cara lain.

Ada beberapa kaidah dalam penggunaan hukuman berupa pukulan antara lain:

Tidak dipergunakan )rukuman ini kecuali jika tidak ada cara laIn lagi.

Pendidik tidak balehmemukul ketika dalam keadaan marah sekali, kerana dikhuwatirkan akan membahayakan anak.

Tidak memukul pads bahagian-bahagian yang menyakitkan, seperti: wajah, kepala dan dada.

Pukulan pada tahap-tahap pertama hukuman tidak keras dan tidak menyakitkan serta tidak boleh lebih dari tiga kali pukulan, kecuali bila terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan.

Tidak boleh dipukul anak yang berumur di bawah sepuluh tahun.

Jika kesalahan anak baru pertama kali ia diberi kesempatan bertaubat dan minta maaf atas perbuatannya. Juga dibuat supaya ada penengah yang kelihatannya mengusahakan pemaafan baginya setelah berjanji tidak mengulangi.

Hendaklah pendidik sendiri yangmemukul anak, tidak menyerahkannya kepada salah satu saudara atau temannya kerana ini dapat menimbulkan kebarian dan kedengkiannya terhadap anak lain yang ikut menghukumnya.

Jika anak meningkat usia dewasa dan pendidik berpendapat bahawa sepuluh kali pukulan tidak cukupmembuat jera anak, maka pendidik boleh menambahnya.

9.7. Berusaha Mengekang Anak Secara Berlebihan.

Iaitu tidak diberi kesempatan bermain bercanda dan bergerak ini bertentangan dengan tabiat anak dan boleh membahayakan kesihatannya, kerana permainan penting bagi pertumbuhan anak dengan baik. "Permainan di tempat yang bebas dan luas termasuk faktor terpenting yang membantu pertumbuhan jasmani anak dan menjaga kesihatannya·"

Maka orangtua seyogianya tidak mencegah anak-anak yang sedang asyik bermain pasir ketika wisata ke tepi pantai atau di tengah padang pasir. Kerana itu merupakan waktu bersenang-senang dan bermain, bukan waktu berdisiplin. Tidak ada waktu kebebasan bergerak bagi anak-anak kecuali dalam kesempatan wisata yang bebas seperti ini. Maka sekali-kali mereka harus dibiarkan.

9.8. Mendidik Anak Tidak Percaya Diri dan Merendahkan Peribadinya.

Sayang ini banyak tejadi di kalangan bapa-bapa; padahal ini berpengaruh jelek terhadap masa depan anak dan pandangannya pada kehidupan. Kerana anak yang terdidik rendah peribadi dan tidak percaya diri akan tumbuh menjadi penakut lemah dan tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan setelah dawasa.

Kerana itu, seyogianya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk dapat mekksanakan tugas-tugas dien dan dunia. Dan hal ini tidak tercapai kecuali dengan mendidik mereka memiliki rasa percaya dan harga diri namun tidak sombong dan takabur; serta senantiasa mengupayakan agar anak dikenalkan kepada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Sebagai contoh: Pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik terjadi kekeringan di daerah Badui maka berdatanganlah penduduk berbagai suku kepada Hisyam dan berkunjung kepadanya. Di antara mereka terdapat Dirwas bin Habib, usianya baru 14 tahun.

Mereka pun bertahan diri dan membuat Hisyam takut. Berkatalah Hisyam kepada penjaganya: "Siapapun dibiarkan menghadap kepadaku, bahkan hingga anak-anak?". Dirwas menyedari bahawa dirinya yang dimaksud, maka ia berkata: "Ya Amirul Mu'minin! Sungguh kunjunganku tidak bermaksud merendahkan baginda sedikitpun tapi untuk memberikan kehormatan bagiku. Dan orang-orang ini datang untuk suatu keperluan yang membuat mereka bertahan kerananya. Ucapan adalah pengungkapan dan diam adalah penyembunyian. Ucapan tidak dapat dikenal kecuali dengan diungkapkan·"

Amirul Mu'minin merasa kagum dengan ucapannya lalu berkatalah Hisyam: "Bagus, ungkapkanlah!". Kata Dirwas: "Ya Amirul Mu'minin! Kami telah ditimpa tiga kali paceklik: pertama, mencairkan lemak; kedua, memakan daging: dan ketiga, mengeluarkan sumsum tulang. Sedang di tangan baginda ada kelebihan harta kekayaan. Jika itu milik Allah bagikanlah kepada hamba-hamba Allah yang berhak. Tetapi jika milik hamba-hamba Allah, maka kenapa baginda tahan? Dan jika hak milik baginda maka sedekahkanlah kepada mereka, kerana sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang bersedekah dan tidak melalaikan balasan orang-orang yang berbuat baik. Ketahuilah, Amirul Mu'minin! Kedudukan pemimpin dari rakyat ibarat ruh pada jasad, tidak ada kehidupan bagi jasad kecuali dengannya". Kata Hisyam: "Anak ini tidak memberi sedikitpun alasan dalam salah satu dari ketiga hal tersebut. "Kemudian ia perintahkan untuk membagikan kepada orang-orang Badui 100.000 dirham dan kepada Dirwas 100.000 dirham. Maka Dirwas berkata: "Ya AmirulMu'minin! Berikanlah sejumlah wang ini kembali kepada orang-orang Baduiku, kerana aku tak mahu jikap pemberian yang telah diperintahkan Amirul Mu'minin tadi tidak dapat memenuhi hajat mereka."

Hisyam bertanya: "Mengapa kamu tidak menyebutkan hajat peribadimu?" Jawabnya: "Aku tidak mempunyai hajat selain hajat semua kaum Muslimin." Perhatikan rasa percaya anak muda ini pada dirinya dan keberaniannya dalam kebenaran.

Wassalaamu'alaikum